Senin , 15 Juli 2024
HeadlineKilas PendidikanSerba SerbiTerpopuler

Sejarah Hari Pendidikan Nasional dan Makna Semboyan Milik Ki Hadjar Dewantara

Madingmu Hari Pendidikan 01

Madingmu.com – Setiap tanggal 2 Mei Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas. Maknanya yang besar, hari Pendidikan Nasional tidak menjadi libur nasional.

Biasanya untuk memperingati Hardiknas, sekolah, intansi Pendidikan maupun pemerintah akan menyelenggarakan upacara bendera. Hari Pendidikan Nasional juga identik dengan berbagai kegiatan lomba di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi. Peringatan Hardiknas ini menjadi momen refleksi bagi semua pihak akan pentingnya pendidikan bagi suatu bangsa dan negara.

Follow Juga : Instagram madingmu

Sejarah Hari Pendidikan Nasional

Melansir laman Kemendikbud, Hari Pendidikan Nasional ditetapkan pada tanggal 2 Mei sebagai hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Beliau lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta, dengan nama R.M. Suwardi Suryadingrat dan lahir dari kalangan keluarga ningrat di Yogyakarta.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia pun mengenyam pendidikan di STOVIA, sebuah sekolah dokter pada zaman Hindia Belanda. Namun karena sakit, akhirnya ia tidak dapat menyelesaikan pendidikannya di sana. Gagal menjadi dokter, akhirnya ia menjadi seorang wartawan di beberapa media surat kabar seperti De Express, Utusan Hindia dan Kaum Muda.

Baca Juga : 8 Rekomendasi Beasiswa, Kamu Wajib Ikutan!

Selama masa kolonialisme, Ki Hadjar dikenal berani dalam menentang berbagai kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Khususnya kebijakan yang hanya membolehkan anak-anak keturunan Belanda dan kaum priyayi yang bisa mengenyam bangku pendidikan.

Karena kritikan dan perlawanannya ini, akhirnya Ki Hadjar pun diasingkan ke Belanda bersama dua rekannya, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangungkusumo. Ketiga tokoh inilah yang dikenal sebagai “Tiga Serangkai”. Setelah kembali ke Indonesia, dia pun mendirikan lembaga pendidikan Tamansiswa (Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa). Dan setelah Indonesia merdeka, Ki Hadjar pun diangkat menjadi Menteri Pendidikan.

Karya-karya Ki Hadjar Dewantara pun menjadi landasan dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Salah satu semboyannya yang paling terkenal adalah “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangungkarso, Tut Wuri Handayani” yang artinya “Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan”. Semboyan tersebut akhirnya menjadi slogan pendidikan yang digunakan hingga saat ini.

Baca Juga : Viral Penampakan Ijazah Sekolah Tahun 1918 Pakai Bahasa Sunda

download 4 1

Atas semua jasa-jasanya tersebut, Ki Hadjar Dewantara pun dianugerahkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959, hari kelahirannya, 2 Mei yang merupakan hari lahir Ki Hadjar ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Makna Semboyan Ki Hadjar Dewantara

“Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”

Ing ngarso sung tulodho : Ketika di depan kita harus memberi contoh atau suri teladan bagi mereka yang berada di tengah dan belakang.

Ing madyo mangun karso : Ketika di tengah kita harus bisa memberikan semangat untuk kemajuan.

Tut wuri handayani : ketika di belakang kita harus mampu memberikan dorongan.

Selamat memperingati Hardiknas 2023! Mari Bergerak Bersama Semarakkan Merdeka Belajar

Follow Juga : Instagram madingmu

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori Konten

Kilas Pendidikan218
Literasi Keuangan54
Ruang Siswa162
Beasiswa305
School lifehack154
Hiburan236
Editor's Pick1649
Terpopuler1601
Opini10
Serba Serbi685




madingmu-white

Madingmu adalah portal digital ajang kreasi dan edukasi anak muda Indonesia.
Dibangun oleh PT Madingmu Sukses Bersama sebagai inisiasi kolaborasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

madingmu-white

Madingmu adalah portal digital ajang kreasi dan edukasi anak muda Indonesia. Dibangun oleh PT Madingmu Sukses Bersama sebagai inisiasi kolaborasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.