Jumat , 19 Juli 2024
Editor's PickHeadlineOlahragaTerpopuler

Henti Jantung! Penyebab Meninggalnya Atlet Zhang Zhi Jie Saat Bertanding

Pebulutangkis Zhang Zhi Jie Meninggal Dunia Usai Sempat Pingsan di Lapangan Saat Lawan Jepang 4143768259

Madingmu.com – Atlet bulutangkis muda Zhang Zhi Jie meninggal dunia usai ambruk di lapangan. Kejadian tersebut terjadi saat Zhi Jie sedang bertanding dalam Kejuaraan Bulu Tangkis Asia Junior atau Badminton Asia Junior Championships 2024 yang dilaksanakan di Jakarta pada Minggu (30/6).

Kabid Humas Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Broto Happy menyampaikan bahwa penyebab meninggalnya atlet 17 tahun tersebut yaitu karena henti jantung. Dilansir dari laman detikJogja, setelah Zhi Jie kolaps di lapangan, ia sempat diberikan pertolongan pertama oleh tim medis turnamen.

Saat pemeriksaan di lapangan, Zhi Jie telah mengalami penurunan kesadaran dan langsung dirujuk ke RSPAU Dr. S Hardjolukito yang berjarak 4,7 km. Denyut nadi Zhi Jie sudah tidak terdeteksi, kemudian pihak RS melakukan Pijat Jantung Luar selama 3 jam sebelum Zhi Jie namun tidak menunjukkan respon dan mulai ada tanda kematian sekunder.

Meski sudah dinyatakan meninggal, Zhi Jie dirujuk ke RSUP Dr Sardjito berdasarkan permintaan tim official China. Di UGD rumah sakit tersebut, Zhi Jie juga mendapatkan tindakan namun tidak ada respon, hingga Zhi Jie dinyatakan meninggal dunia.

Henti Jantung

Henti jantung mendadak yang terjadi pada Zhang Zhi Jie merupakan hal yang termasuk jarang sekali terjadi pada atlet. Hal tersebut disampaikan oleh dr. Furqon Satria, dokter spesialis jantung pada laman X bahwa bisa terjadi 1/200ribu kasus pada atlet dalam setahun.

Penyebab utama henti jantung terbagi berdasarkan usia, dr. Furqon Satria mengatakan bahwa jika orang berusia lebih dari 35 tahun berarti serangan jantung, sementara kurang dari 35 tahun merupakan kondisi kongenital seperti hypertrophic cardiomyopathy, congenital coronary anomaly, atau ARVD.

Dilansir dari laman Siloam Hospitals, henti jantung dan serangan jantung memiliki perbedaan, henti jantung atau sudden cardiac arrest merupakan kondisi ketika jantung berhenti karena adanya gangguan listrik pada jantung.

Maka, darah yang dibutuhkan oleh banyak organ tubuh lainnya tidak bisa tersalurkan dengan baik. Sementara, serangan jantung adalah kondisi dimana jantung tidak mendapat oksigen yang cukup dan juga disebabkan oleh adanya penyumbatan pembuluh darah. Namun, kedua penyakit tersebut sama-sama merupakan kondisi kesehatan yang serius dan harus mendapat penanganan segera.

Penanganan Saat Henti Jantung

Penanganan pada pasien henti jantung memiliki 2 langkah berdasarkan laman Siloam Hosptitals, yaitu pertolongan pertama dan pengobatan.

  1. Pertolongan Pertama

Pertolongan pertama yang dilakukan ketika ada pasien dengan kondisi sudden cardiac arrest adalah dengan memberikan CPR atau RJP. Hal ini dilakukan untuk mengembalikan aliran darah serta kemampuan pasien untuk bernafas.

Dokter Tirta dalam video yang diunggah di situs X menekankan bahwa pertolongan pertama di 2 menit awal akan memperpanjang kemungkinan hidup dari pasien (atlet) sebelum dibawa ke rumah sakit terdekat.

  1. Pengobatan

Setelah jantung bisa kembali berdetak, pasien akan mendapatkan perawatan dan pengobatan tertentu. Dokter juga perlu memastikan penyebab sudden cardiac arrest untuk menentukan pengobatan yang tepat. Beberapa pengobatan yang biasa dilakukan dokter yaitu, memberi obat, ablasi jantung (memasukan kateter melalui pembuluh darah), hingga Implan ICD atau alat kejut jantung.

Respon Para Dokter Terhadap Insiden Zhang Zhi Jie

Dari insiden yang terjadi pada atlet Zhang Zhi Jie, beberapa dokter memiliki harapan untuk semua pihak mengenai pertolongan pertama pada orang yang terkena henti jantung, seperti dr. Andhika dalam laman detikhealth mengharapkan bahwa sebetulnya CPR kala itu bisa langsung dilakukan tanpa menunggu persetujuan wasit, karena setiap detik dan menit sangat berharga bagi pasien henti jantung.

Selain itu, dr. Furqon juga menyatakan bahwa pasien henti jantung ventricular tachycardia atau ventricular fibrillation memang harus cepat ditangani, dengan segera melakukan RJP (resusitasi jantung paru) sebagai penanganan awal. Ia juga menunjukkan alat AED yang biasanya tersedia di tempat umum, seperti bandara.

Dokter Tirta juga berharap ada evaluasi menyeluruh baik dari panitia penyelenggara, tim medis, maupun pihak BWF. Menurutnya, olahraga apa pun yang kompetitif dan melibatkan adrenalin sangat berisiko sekalipun bagi orang yang sudah terlatih termasuk para atlet.

Follow Juga : Instagram madingmu

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

madingmu-white

Madingmu adalah portal digital ajang kreasi dan edukasi anak muda Indonesia.
Dibangun oleh PT Madingmu Sukses Bersama sebagai inisiasi kolaborasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

madingmu-white

Madingmu adalah portal digital ajang kreasi dan edukasi anak muda Indonesia. Dibangun oleh PT Madingmu Sukses Bersama sebagai inisiasi kolaborasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.